Jumat, 12 Maret 2010

Antara Anak Jalan dan HIV/AIDS


Antara Anak Jalan dan HIV/AIDS
Antara Anak Jalanan Dan HIV/AIDS
Penanganan anak jalanan di kota-kota besar kerap kali menjadi masalah krusial. Apalagi, sebagian besar di antara mereka adalah remaja tanggung yang diharapkan menjadi generasi muda penerus bangsa. Apa jadinya ya? bila negeri ini dipenuhi generasi muda tanpa harapan. huh... gimana Indonesia ini makin maju kalau terus kaya gitu.
Apa lagi ...


belakangan ini anak yang hidup di jalan banyak yang mengidap HIV/AIDS, yang kian memprihatinkan. Anak yang hidup di jalanan biasanya lebih rawan terkena Human immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Dari 144.889 orang anak jalanan, 8.581 anak terinfeksi virus tersebut. Direktur Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, Sri Astuti Soeparmanto menyatakan dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan kasus HIV/AIDS.
Secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sampai Desember 2008 berjumlah 8.194 kasus, sedangkan kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 5.230 kasus. Hasil estimasi populasi rawan tertular HIV tahun 2008 sejumlah 193 ribu orang. Dari kasus AIDS yang dilaporkan, 54,76 persen terjadi pada usia 20-29 tahun. Sampai Juni 2008, jumlah pengidap AIDS yang dilaporkan telah mencapai 9.689 kasus, sedangkan kasus HIV yang dilaporkan sebanyak 5.813 kasus. Urutan kelompok resiko tinggi tertular HIV/AIDS adalah pengguna jarum suntik (IDU), pekerja seks komersial, anak jalanan dan ibu rumah tangga.
Di kalangan pegidap AIDS, anak jalanan dan ibu rumah tangga merupakan kelompok beresiko besar terkena virus tersebut, dan harus diperhatian dengan serius. Seperti fenomena gunung es, kasus anak jalanan yang terinfeksi HIV/AIDS diperkirakan masih akan terus bertambah. Kehidupan seks bebas di kalangan anak jalanan menjadi penyebab cepatnya penyebaran virus HIV/AIDS.
Gaya hidup bebas dan kurangnya informasi tentang seks aman bagi mereka menyebabkan penyebaran kian tidak terkendali. Apalagi anak-anak jalanan ini terpisah dari orang tua sehingga mempersulit dalam upaya pencegahan dan pembinaan. Terlebih, kurangnya pemahaman mereka mengenai seks aman semakin mempermudah timbulnya berbagai penyakit menular seksual (PMS), termasuk HIV/AIDS.
Seringnya berganti-ganti pasangan membuat penularan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh itu semakin sulit ditelusuri. Hal ini diperparah dengan kebijakan pemerintah dalam penanganan HIV/AIDS, di mana identitas ODHA (orang dengan HIV/AIDS) disembunyikan dan tidak boleh dipublikasikan. Mobilisasi anak jalanan yang sangat tinggi di berbagai kota juga disinyalir menjadi penyebab cepatnya penyebaran HIV/AIDS di kalangan anak jalanan.
Meski terdapat banyak lembaga yang memiliki fokus perhatian pada pendampingan anak-anak jalanan, keterbatasan anggaran sering menjadi penyebab mengapa pemantauan tidak efektif. Pendamping tidak memiliki shelter yang memadai untuk mereka yang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS. Bahkan, mungkin yang bersangkutan tidak mengetahui dirinya terinfeksi HIV/AIDS tersebut.
Padahal jika informasi tidak disampaikan, ODHA tersebut tidak mengetahui bahwa dia berpotensi untuk menularkan HIV/AIDS. Tidak adanya perbaikan pola hidup yang selama ini dijalani, membuat penularan HIV/AIDS menjadi tidak terkontrol. Jika persoalan seperti ini tidak segera ditangani, bisa dipastikan beberapa tahun mendatang akan terjadi ledakan kasus HIV/AIDS. Kebanyakan anak jalanan memperoleh informasi seksnya dari teman sebaya atau anak jalanan yang lebih tua, baik buku porno, film/VCD porno atau mengintip orang yang sedang melakukan hubungan seksual.
Mudahnya memperoleh pengetahuan mengenai seks mempengaruhi sikap anak jalanan terhadap hubungan seksual. Pergaulan antar teman juga merupakan sarana yang efektif untuk saling bertukar informasi termasuk pengetahuan mengenai seks. Tak mengherankan banyak anak jalanan usia belasan tahun sudah mahir praktek seks.
Terlebih, anak-anak jalanan terkadang memiliki anggapan hubungan seksual di luar nikah sebagai hal yang wajar, karena itu merupakan urusan dari anak jalanan itu sendiri dan tidak mengganggu kepentingan orang lain. Jika disimak, secara moral hubungan seks di luar nikah jelas diharamkan
Di samping itu, dari segi kesehatan hubungan seks yang tidak sehat, mengandung risiko yang fatal, mulai dari penyakit menular seksual (PMS) hingga ancaman terkena HIV/AIDS. Sayang sekali jika anak-anak yang masih perlu perlindungan itu menderita penyakit yang mungkin sebelumnya tidak mereka ketahui, bahkan sangat berbahaya bagi mereka.
Peran para pekerja sosial dan masyarakat lainnya dalam membantu anak jalanan memang sangat penting manakala kita dihadapkan pada masalah-masalah seputar kebiasan seksual anak-anak tersebut. Bahkan di kalangan anak jalanan, ada yang menjadikan seks sebagai mata pencaharian hidup. Anak jalanan ini lebih dikenal dengan sebutan perek. Dan celakanya, pengalaman seks anak jalanan menyebabkan mereka sangat rentan tertular virus HIV/AIDS.
Pada November 1996-Maret 1997, Yayasan Duta Awan melakukan survei pada 500 anak jalanan di Semarang. Hasilnya, 90,4 % pernah berhubungan seksual, baik secara tidak rutin (48,4%), rutin 1 kali/bulan (6,5%), rutin 2-3 kali/bulan (16,2%), rutin 4-6 kali/bulan 6,4%), ataupun rutin 8 kali/bulan (12,9%). 22,8% dilakukan oleh anak jalanan yang masih SD dan 47,9% oleh anak-anak SLTP.
Sementara itu, hasil penelitian yang diberitakan oleh Penggiat Lembaga Perlindungan Anak Jawa Tengah, secara lebih khusus memperlihatkan 64,29% anak jalanan perempuan pernah berhubungan seksual (Surya, 21/11/00). Bahkan, hasil survei Yayasan Setara (1999) mengungkapkan bahwa 46,4% dari anak jalanan perempuan telah “memilih” profesi sebagai kupu-kupu malam anak-anak.
Sayangnya , tidak begitu banyak perhatian mengenai HIV/AIDS di kalangan anak jalanan termasuk promosi penggunanaan kondom (LPA Jateng, 2008 hal 123). Dengan demikian perlu dilakukan program lanjutan untuk anak-anak yang telah memperoleh keterampilan di rumah singgah. Jadi apa yang diperoleh dapat digunakan untuk mencari kerja sehingga dapat keluar dari kehidupan jalanan.
Meski sulit mengubah dan menghilangkan perilaku seksual anak jalanan namun upaya serius dengan melibatkan banyak pihak sangat diperlukan. Karena itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk memberikan pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS sehingga pengetahuan anak jalanan dapat bertambah.
Deteksi dini status HIV, termasuk VCT bagi anak jalanan sebenarnya sangat bermanfaat, karena ODHA(orang dengan HIV/AIDS) dapat mengikuti program pembinaan, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun LSM peduli AIDS. Sehingga, anak jalanan yang menjadi ODHA bisa hidup normal seperti masyarakat umum, dan tidak menularkan penyakitnya pada keluarga maupun orang di sekitarnya.
Perlu adanya upaya multi sektor dan lintas bidang guna memecahkan persebaran HIV/AIDS di kalangan anak-anak jalanan. Pendekatan yang lebih manusiawi, tidak menjadikan stigma bagi mereka apalagi pendekatan dengan hukuman sangatlah bermanfaat. Dalam konteks pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS pendekatan moral yang menjadi kambing hitam tidaklah tepat dan tidak memadai. Harus dicari solusi reformatif dan menyentuh dari pokok masalah.

Stumble
Delicious
Technorati
Twitter
Facebook

0 Comments:

Posting Komentar

2010 FIFA World Cup South Africa™

 

INFORMASI, TREND, STYLE dan KEHIDUPAN Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha